2010, ada apa? Bagi saya, yang spesial di tahun ini mungkin satu, Piala Dunia. Ya, 2010 merupakan tahun saat Piala Dunia digelar di Afrika Selatan. Piala Dunia selalu menghadirkan euforia tersendiri bagi insan penggemar sepak bola di seluruh dunia. Kita tahu, bahwa sepak bola bisa menjadi bahasa universal, tanpa mengerti bahasa asing, kita bisa mengerti bahwa sepak bola adalah sebuah permainan yang lebih dari kehidupan mereka tersendiri. Pemain, pelatih, penonton, dan semua insan sepak bola adalah makhluk hidup. Tapi di sisi lain, sepak bola menjadi hal yang melebihi makna hidup. Di sinilah kita bisa melihat bahwa sepak bola telah berubah menjadi sesuatu yang dimaknai lebih, bahkan cenderung berlebihan oleh segelintir orang, bahkan banyak orang.
Kita menyebutnya suporter, di Bandung biasa disebut bobotoh, dan di Italia biasa disebut tifosi, el tifoso, atau di Inggris, dinamakan hooligan, dan masih banyak sebutan-sebutannya. Artinya, apa yang mereka dukung, itu adalah hidup mereka. Saat Stadion Siliwangi masih digunakan secara rutin oleh Persib untuk bertanding, tribun penonton selalu penuh oleh para bobotoh, khususnya tribun Timur dan Selatan. Beberapa jam sebelum pertandingan, para bobotoh berbondong-bondong melakukan perjalanan dari berbagai pelosok Bandung, bahkan Jawa Barat. Tak jarang meresahkan warga yang melintas. Tapi itulah fanatisme, terkadang seorang fanatis berubah menjadi seorang Machiavellis yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepuasan demi fanatisme mereka.
Salah? Benar? Tidak ada salah benar dalam fanatisme, sebuah fanatisme muncul di hati mereka bisa saja secara tiba-tiba, atau mungkin secara bertahap lalu mendasar dan mendarah daging. Bahkan turun temurun di dalam diri para fanatis. Siapa yang patut disalahkan? Bahkan pendidikan yang tinggi pun belum tentu bisa menjadi sebuah jaminan bahwa seorang fanatis tidak akan berbuat bodoh demi fanatisme, dalam konteks ini, sepak bola.
Menghadapi tahun 2010 ini, kita dihadapkan pada Piala Dunia, khususnya rakyat Afrika Selatan yang berbangga diri karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, benua Afrika menjadi tuan rumah perhelatan sepak bola terbesar di dunia. Hooligan Inggris, Tifosi Italia siap membanjiri setiap penjuru Afrika Selatan dimana tim kesayangan mereka akan bertanding, belum lagi suporter tuan rumah. Itulah suporter, lintas negara dan benua, dimana tim kesayangan mereka bertanding, terkadang mereka melakukan whatever it takes untuk hadir mendampingi tim kesayangan mereka.
Afrika Selatan, sebuah negara di selatan benua Hitam yang menjadi tuan rumah perhelatan 4 tahunan ini harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Modal superbesar yang dikeluarkan bisa kembali dengan devisa yang masuk, dan bahkan secara jangka panjang, perhelatan yang sukses akan menjamin kredibilitas mereka sebagai negara yang baik untuk dikunjungi. Kesuksesan dalam menjalankan event sepak bola, bisa menjadi sebuah kepercayaan jangka panjang bagi dunia luar. Saya tidak akan membahas ancang-ancang Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 karena terlalu dini, dan semua bisa berubah dalam waktu 12 tahun. Yang justru saya takutkan adalah rencana menjadi tuan rumah ini hanya akal-akalan untuk menggaet simpati dari masyarakat Indonesia yang cenderung gila bola agar orang-orang yang berada di belakang pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah memiliki banyak pendukung di belakangnya. Lip service? Bukan tidak mungkin.
Piala Dunia selalu menjadi bahan perbincangan, bahkan saat Piala Dunia 2006 berakhir, semua orang sudah membicarakan tentang perhelatan 4 tahun ke depan, 8 tahun, 12, 16, 20, 24, bahkan seterusnya. Oleh sebab itu, tidak salah jika saya mengatakan bahwa euforia 2010 adalah Piala Dunia, karena kita sudah semakin dekat. Dengan 32 peserta di depan mata, rasanya mustahil jika Piala Dunia tidak menjadi bahan perbincangan banyak orang, khususnya penggemar sepak bola, semua kalangan.
Universalitas sepak bola, menjadi kunci, bagi kita semua, untuk mengerti, arti sebuah permainan, dan hidup.
Argentina dan Inggris, Persepolis dan Esteghlal, Persib dan Persija, Ajax dan Feyenoord, Barcelona dan Real Madrid, adalah segelintir contoh, dimana sepak bola bukanlah sebuah permainan yang menjadi urusan klub semata, tapi juga ribuan, bahkan jutaan orang di sekeliling mereka, yang acapkali bertindak "gila" untuk meraih kepuasan, bagi mereka, dan klub kesayangannya. Maka, Piala Dunia 2010, datanglah, dan biarkan suporter, pecinta sebuah permainan bernama sepak bola, dipuaskan, dengan permainan indah, melebihi hidup.
2.1.10
2.12.09
Janji dan Sepucuk Surat Lokomotif Tua
Roda kereta berderit dan kereta pun berhenti. Siang itu, suhun kota Bandung menunjukkan 31 derajat celcius. Bandung telah menjadi kota yang jauh berbeda semenjak kutinggalkan 3 tahun yang lalu.
Mobil itu tak kunjung datang, ku seret koper-koper tanpa bantuan tukang angkut, aku belum sempat menukar US$ ke Rupiah dalam jumlah banyak. "Asalkan cukup membeli tiket Jakarta-Bandung", gumamku.
Aku masih berharap dia ingat. Sebelum aku pergi dulu, aku berjanji, tepat 3 tahun yang akan datang, 13 Maret 2002, aku akan kembali ke sini. Jika ku bisa, aku beli tiketnya dari sekarang, agar kamu tahu dan kamu ingat, kapan dan jam berapa kau akan menunggu, di sini. Tepat di bawah Lokomotif tua ini berdiri.
Saat itu, 13 Maret 1999. Hari cerah, di mana sebelum aku pergi, kau masih menemaniku bersepeda, di sekitar Taman Sari, lalu memarkirkannya, di pintu kebun binatang.
Aku tak menyangka, bahwa kau akan lupa, akan 13 Maret 2002, aku berjanji, aku akan kembali. Pada jam yang aku katakan, dan ya, meski kereta sedikit terlambat, keterlambatanku bukan hal yang berlebihan jika kau tunggu.
3 jam berselang aku masih di sana, memantik api untuk menyalakan batangan-batangan rokokku yang kubawa dari Maryland.
40 jam sebelumnya, aku masih berada di Dulles International Airport, Washington D.C. untuk melakukan segala hal yang bisa melancarkan kepulanganku.
Aku rindu, rindu sekali.
Kesabaranku habis, guratan-guratan lelah terpancar dari parasku. "Aku lelah", gumamku.
Setiap langkah gontai kupaksakan. Waktu menunjukkan pukul 21:00, Stasiun Bandung Selatan masih ramai dengan para pramunikmat yang menjajakan tubuhnya demi sesuap nasi.
Angkutan umum untuk pulang yang biasa aku naiki sudah tidak beroperasi. Jam kereta terakhir lah yang mereka kejar.
Aku ingat, janjimu. "Saat kau pulang nanti, berikan aku waktu, untuk mempersiapkan segelas teh manis hangat, dan roti isi selai dan coklat, dan awan penuh bintang", bisikmu. Aku tersenyum dan kukecup keningmu.
Aku balas berbisik, "3 tahun bukan waktu yang lama sayang, bukan." Aku selalu berharap bahwa kecupan itu menjadi pengantar tidur terindahmu sebelum aku pergi.
Matamu terpejam, aku pulang.
Kenangan itu yang selalu membuat aku rindu untuk pulang.
Dengan penuh derai tawa, dan begitu bersemangat, aku katakan pada kawan-kawanku, "Aku akan pulang untuk menikmati teh manis hangat dan roti bakar! Tak ada yang seindah itu di sini."
Langkahku semakin melambat. Aku kira aku tak punya lagi tenaga untuk berjalan. "Biarkan aku membuka kamar untuk semalam. Urusan bayar-membayar, biarkan mata uang asing ini yang berbicara", pikirku.
Di sekitar situ, sedikit sekali hotel yang memadai untukku menghabiskan malam. Yang ada hanya hotel-hotel tempat wanita malam melayani tamunya demi sebuah kenikmatan berbalas uang.
Aku masuk ke sebuah hotel yang bahkan begitu samar terlihat papan namanya. Peduli setan, yang penting aku bisa tidur.
Jam 11 aku kembali ke luar untuk mencari makan dan kembali tepat pukul 1.
Ada rasa kesal kenapa aku terlalu percaya pada janjimu, sehingga aku begitu bodohnya untuk tidak menghubungimu. Terbersit niat, namun, "Ah, terlalu malam, jikapun aku hubungi, akan sangat mengganggu tidurnya", ujarku lagi.
Aku pun terlelap.
Mimpiku berbicara, merefleksikan apa yang aku pikirkan selama beberapa jam terakhir.
Kau berada di dalam sebuah kereta, pulang. Kau teriak, "pulang!"
Pintu kereta enggan membuka, meski berusaha kudobrak dan kereta masih berjalan lambat. Pintu tetap enggan membuka. Aku berhenti dan terdiam.
Mimpi berlari dan tidurku gelap.
Jam 12 siang aku terbangun, seharusnya aku sudah keluar dari jam 11 tadi.
Tapi, tak apalah, masih ada beberapa lembar untuk bisa menahanku beberapa malam lagi di tempat ini.
Sempat terbersit untuk pulang, namun, bukan itu tujuanku kembali, bukan. Aku ingin menikmati janjimu, itu saja.
Hidupku tidak bersahaja, aku hidup bahagia dan lebih dari berkecukupan untuk hidup di negeri yang jauh di sana. Banyak yang membutuhkanku, tapi aku telah berjanji padanya, untuk kembali, menikmati janjimu, janjimu itu yang selalu mendorongku untuk membalikkan kalendar dan menunggu saatnya.
Lokomotif itu berdiri gagah, aku berdiri di situ, berputar mengitarinya. Dan kutemukan sepucuk surat.
Aku buka, tertulis, "Aku tak percaya kau akan pulang tepat waktu, tapi nyatanya kau memang datang. Aku tersenyum dan begitu bergembira melihatmu kembali pulang. Sengaja kutinggalkan surat ini agar kau membacanya."
Saat itu juga, aku tahu, itu buatku, tak ada lagi yang memiliki tulisan tangan yang berantakan seperti itu dan ku tetap bisa membacanya.
Setelah aku baca lagi, tidak ada tanda-tanda dia mengetahui aku pulang, atau dia berada di sana, atau apapun. Tidak ada tanda-tanda di mana dia berada sekarang, atau kemarin, atau kapanpun.
Aku terdiam kembali, menunggu malam, dan berharap dia datang kembali sore itu.
Mataku lelah, kupikir ku harus kembali ke kamar, untuk menyimpan tenaga sejenak.
Sore itu, tepat pukul 16:30, aku terbangun untuk mencari makanan kecil di kantin depan hotel. Aku duduk, dan memesan makanan kecil untuk mengganjal perutku.
Pelayan datang dan mengembalikan pesananku, dia mengatakan, "pesanan Anda, 'Teh Manis Hangat dan Roti isi Selai dan Coklat".
Mobil itu tak kunjung datang, ku seret koper-koper tanpa bantuan tukang angkut, aku belum sempat menukar US$ ke Rupiah dalam jumlah banyak. "Asalkan cukup membeli tiket Jakarta-Bandung", gumamku.
Aku masih berharap dia ingat. Sebelum aku pergi dulu, aku berjanji, tepat 3 tahun yang akan datang, 13 Maret 2002, aku akan kembali ke sini. Jika ku bisa, aku beli tiketnya dari sekarang, agar kamu tahu dan kamu ingat, kapan dan jam berapa kau akan menunggu, di sini. Tepat di bawah Lokomotif tua ini berdiri.
Saat itu, 13 Maret 1999. Hari cerah, di mana sebelum aku pergi, kau masih menemaniku bersepeda, di sekitar Taman Sari, lalu memarkirkannya, di pintu kebun binatang.
Aku tak menyangka, bahwa kau akan lupa, akan 13 Maret 2002, aku berjanji, aku akan kembali. Pada jam yang aku katakan, dan ya, meski kereta sedikit terlambat, keterlambatanku bukan hal yang berlebihan jika kau tunggu.
3 jam berselang aku masih di sana, memantik api untuk menyalakan batangan-batangan rokokku yang kubawa dari Maryland.
40 jam sebelumnya, aku masih berada di Dulles International Airport, Washington D.C. untuk melakukan segala hal yang bisa melancarkan kepulanganku.
Aku rindu, rindu sekali.
Kesabaranku habis, guratan-guratan lelah terpancar dari parasku. "Aku lelah", gumamku.
Setiap langkah gontai kupaksakan. Waktu menunjukkan pukul 21:00, Stasiun Bandung Selatan masih ramai dengan para pramunikmat yang menjajakan tubuhnya demi sesuap nasi.
Angkutan umum untuk pulang yang biasa aku naiki sudah tidak beroperasi. Jam kereta terakhir lah yang mereka kejar.
Aku ingat, janjimu. "Saat kau pulang nanti, berikan aku waktu, untuk mempersiapkan segelas teh manis hangat, dan roti isi selai dan coklat, dan awan penuh bintang", bisikmu. Aku tersenyum dan kukecup keningmu.
Aku balas berbisik, "3 tahun bukan waktu yang lama sayang, bukan." Aku selalu berharap bahwa kecupan itu menjadi pengantar tidur terindahmu sebelum aku pergi.
Matamu terpejam, aku pulang.
Kenangan itu yang selalu membuat aku rindu untuk pulang.
Dengan penuh derai tawa, dan begitu bersemangat, aku katakan pada kawan-kawanku, "Aku akan pulang untuk menikmati teh manis hangat dan roti bakar! Tak ada yang seindah itu di sini."
Langkahku semakin melambat. Aku kira aku tak punya lagi tenaga untuk berjalan. "Biarkan aku membuka kamar untuk semalam. Urusan bayar-membayar, biarkan mata uang asing ini yang berbicara", pikirku.
Di sekitar situ, sedikit sekali hotel yang memadai untukku menghabiskan malam. Yang ada hanya hotel-hotel tempat wanita malam melayani tamunya demi sebuah kenikmatan berbalas uang.
Aku masuk ke sebuah hotel yang bahkan begitu samar terlihat papan namanya. Peduli setan, yang penting aku bisa tidur.
Jam 11 aku kembali ke luar untuk mencari makan dan kembali tepat pukul 1.
Ada rasa kesal kenapa aku terlalu percaya pada janjimu, sehingga aku begitu bodohnya untuk tidak menghubungimu. Terbersit niat, namun, "Ah, terlalu malam, jikapun aku hubungi, akan sangat mengganggu tidurnya", ujarku lagi.
Aku pun terlelap.
Mimpiku berbicara, merefleksikan apa yang aku pikirkan selama beberapa jam terakhir.
Kau berada di dalam sebuah kereta, pulang. Kau teriak, "pulang!"
Pintu kereta enggan membuka, meski berusaha kudobrak dan kereta masih berjalan lambat. Pintu tetap enggan membuka. Aku berhenti dan terdiam.
Mimpi berlari dan tidurku gelap.
Jam 12 siang aku terbangun, seharusnya aku sudah keluar dari jam 11 tadi.
Tapi, tak apalah, masih ada beberapa lembar untuk bisa menahanku beberapa malam lagi di tempat ini.
Sempat terbersit untuk pulang, namun, bukan itu tujuanku kembali, bukan. Aku ingin menikmati janjimu, itu saja.
Hidupku tidak bersahaja, aku hidup bahagia dan lebih dari berkecukupan untuk hidup di negeri yang jauh di sana. Banyak yang membutuhkanku, tapi aku telah berjanji padanya, untuk kembali, menikmati janjimu, janjimu itu yang selalu mendorongku untuk membalikkan kalendar dan menunggu saatnya.
Lokomotif itu berdiri gagah, aku berdiri di situ, berputar mengitarinya. Dan kutemukan sepucuk surat.
Aku buka, tertulis, "Aku tak percaya kau akan pulang tepat waktu, tapi nyatanya kau memang datang. Aku tersenyum dan begitu bergembira melihatmu kembali pulang. Sengaja kutinggalkan surat ini agar kau membacanya."
Saat itu juga, aku tahu, itu buatku, tak ada lagi yang memiliki tulisan tangan yang berantakan seperti itu dan ku tetap bisa membacanya.
Setelah aku baca lagi, tidak ada tanda-tanda dia mengetahui aku pulang, atau dia berada di sana, atau apapun. Tidak ada tanda-tanda di mana dia berada sekarang, atau kemarin, atau kapanpun.
Aku terdiam kembali, menunggu malam, dan berharap dia datang kembali sore itu.
Mataku lelah, kupikir ku harus kembali ke kamar, untuk menyimpan tenaga sejenak.
Sore itu, tepat pukul 16:30, aku terbangun untuk mencari makanan kecil di kantin depan hotel. Aku duduk, dan memesan makanan kecil untuk mengganjal perutku.
Pelayan datang dan mengembalikan pesananku, dia mengatakan, "pesanan Anda, 'Teh Manis Hangat dan Roti isi Selai dan Coklat".
23.11.09
Pembantaian di White Hart Lane
Sejak Liga Primer Inggris digulirkan pada musim 1992-1993, tidak banyak skor besar yang dicetak oleh klub-klub Liga Primer. Persaingan yang ketat menjadi bukti bahwa Liga Primer bukan hanya milik satu tim juara, namun juga bagi tim-tim yang bersaing. Tim-tim medioker yang berjuang menghindari degradasi pun bisa merasa mereka memiliki Liga Primer saat mereka berhasil lolos dari jeratan degradasi di akhir musim.
Sudah lama Liga Inggris tidak menyajikan skor besar, namun, pertandingan Minggu malam, 22 November 2009 antara Tottenham Hotspurs melawan Wigan Athletic yang berlangsung di White Hart Lane, London menjadi salah satu pertandingan dengan skor besar di Liga Primer Inggris. 9-1, sebuah skor yang menunjukkan ketimpangan antara kedua tim. Wigan bukan tim yang buruk, tim yang dimanajeri Roberto Martinez ini sejak kembalinya mereka divisi teratas kompetisi Football Association Inggris beberapa tahun ke belakang, mereka kerap menyulitkan tim-tim besar seperti Chelsea, Manchester United, Liverpool, maupun Arsenal.
Pertandingan melawan Tottenham Hotspurs menjadi pukulan telak bagi anak-anak Wigan Athletic. 5 gol dari Jermaine Defoe menjadi bukti bagaimana Spurs mendominasi permainan, dan Defoe mampu dengan mudahnya mencetak gol sebanyak itu. Dikutip dari soccernet.com, Harry Redknapp, manajer Tottenham Hotspurs mengatakan bahwa Spurs telah kembali ke masa-masa Glory Game. Pada pertandingan ke-1100nya di divisi teratas itu, dia mampu membawa Spurs meraih salah satu kemenangan terbesar di Liga Primer Inggris.
Sebagai perbandingan, berikut adalah pertandingan-pertandingan di Liga Primer Inggris dengan kemenangan terbesar yang dikutip dari soccernet.com.
Manchester United 9-0 Ipswich - Maret 1995
Newcastle 8-0 Sheffield Wednesday - September 1999
Nottingham Forest 1-8 Manchester United - Februari 1999
Arsenal 7-0 Everton - Mei 2005
Blackburn 7-0 Nottingham Forest - November 1995
Manchester United 7-0 Barnsley - Oktober 1997
Arsenal 7-0 Middlesbrough - Januari 2006
Sudah lama Liga Inggris tidak menyajikan skor besar, namun, pertandingan Minggu malam, 22 November 2009 antara Tottenham Hotspurs melawan Wigan Athletic yang berlangsung di White Hart Lane, London menjadi salah satu pertandingan dengan skor besar di Liga Primer Inggris. 9-1, sebuah skor yang menunjukkan ketimpangan antara kedua tim. Wigan bukan tim yang buruk, tim yang dimanajeri Roberto Martinez ini sejak kembalinya mereka divisi teratas kompetisi Football Association Inggris beberapa tahun ke belakang, mereka kerap menyulitkan tim-tim besar seperti Chelsea, Manchester United, Liverpool, maupun Arsenal.
Pertandingan melawan Tottenham Hotspurs menjadi pukulan telak bagi anak-anak Wigan Athletic. 5 gol dari Jermaine Defoe menjadi bukti bagaimana Spurs mendominasi permainan, dan Defoe mampu dengan mudahnya mencetak gol sebanyak itu. Dikutip dari soccernet.com, Harry Redknapp, manajer Tottenham Hotspurs mengatakan bahwa Spurs telah kembali ke masa-masa Glory Game. Pada pertandingan ke-1100nya di divisi teratas itu, dia mampu membawa Spurs meraih salah satu kemenangan terbesar di Liga Primer Inggris.
Sebagai perbandingan, berikut adalah pertandingan-pertandingan di Liga Primer Inggris dengan kemenangan terbesar yang dikutip dari soccernet.com.
Manchester United 9-0 Ipswich - Maret 1995
Newcastle 8-0 Sheffield Wednesday - September 1999
Nottingham Forest 1-8 Manchester United - Februari 1999
Arsenal 7-0 Everton - Mei 2005
Blackburn 7-0 Nottingham Forest - November 1995
Manchester United 7-0 Barnsley - Oktober 1997
Arsenal 7-0 Middlesbrough - Januari 2006
16.10.09
Sebuah tarian untuk kawan, Batu
Demi sebuah derai begitu keras menghantam
Aku percaya tidak ada yang pernah menjadi batu
Batu
Batu
Batu
Batu
Sekeras batu itu,
Air mata yang mengalir mengalur, siapa bisa menyangkalnya
Berlanjut pada derai yang pada akhirnya terhenti,
Kau, seorang batu
Batu
Batu
Terlalu lama didera dingin, bukan hujan..........
Dingin, ya dingin
Bukan hujan yang membuat lubang, bukan
Demi pijakanku, bukan
Langkahmu tak pernah terhenti, dan batu itu tak pernah memaksa henti
Aku percaya sebuah derai, bukan derai pertama, bukan terakhir
Sekali lagi, demi pijakanku, demi sembahanku, BUKAN!
Deraikanlah air matamu, derai, derai teriakku!
Kita telah berpijak pada pijakan yang sama, derai!
Satu lubang, bertahan, tak tertutup, tapi
tertambal.
Rapi.
Dan esok, rapi.
Derai membuat lubang, membuat lubang,
Pada batu, tetesan, air mata air.
Bukan, penghenti langkah, demi pijakanku, bukan.
Aku percaya, kelak, Rapi, wahai..
Batu.
Haekal Adzani.16.10.09.23.53.P.M.
Untuk seorang sahabat.
Aku percaya tidak ada yang pernah menjadi batu
Batu
Batu
Batu
Batu
Sekeras batu itu,
Air mata yang mengalir mengalur, siapa bisa menyangkalnya
Berlanjut pada derai yang pada akhirnya terhenti,
Kau, seorang batu
Batu
Batu
Terlalu lama didera dingin, bukan hujan..........
Dingin, ya dingin
Bukan hujan yang membuat lubang, bukan
Demi pijakanku, bukan
Langkahmu tak pernah terhenti, dan batu itu tak pernah memaksa henti
Aku percaya sebuah derai, bukan derai pertama, bukan terakhir
Sekali lagi, demi pijakanku, demi sembahanku, BUKAN!
Deraikanlah air matamu, derai, derai teriakku!
Kita telah berpijak pada pijakan yang sama, derai!
Satu lubang, bertahan, tak tertutup, tapi
tertambal.
Rapi.
Dan esok, rapi.
Derai membuat lubang, membuat lubang,
Pada batu, tetesan, air mata air.
Bukan, penghenti langkah, demi pijakanku, bukan.
Aku percaya, kelak, Rapi, wahai..
Batu.
Haekal Adzani.16.10.09.23.53.P.M.
Untuk seorang sahabat.
Dadu
Jadi kita kembali lagi pada dunia yang heterogen.
Miskin kaya tua muda kecil besar tuan nyonya.
Seperti enam sisi sebuah dadu yang berpeluang sama saat dilempar.
Saat itu pula derita berada di atas dan tawa tertimpa.
Tidak adil berbicara kapan tawa menyeruak di wajah tirus, dan kapan murung menyeruak dari wajah gembira.
Aku pernah menjadi seorang kuat, dan menindas-nindas.
Tapi kesesaatan itu membuatku sadar.
Kaki tak bisa selamanya memental ke kepala makhluk paling sempurna.
Ada kalanya kaki kita terikat dan butuh waktu melepas ikatannya.
Maka, demi setiap keberagamannya, tidak ada harap secuil pun untuk membuatnya homogen, hanya, harap yang menggunung, menggunung, menggunung, membuatku, menjadi cermin bagi diriku, bukan membuat -mu, -nya, mereka.
Bukan tuan, bukan.
Acak itu menebar senyum, tangis, luka, dan bahagia.
Dari situ lah, kita memilih dan membangun cermin itu.
Biarkan dua sisi dadu ku biarkan kosong, dan akan kupilih, apa yang akan kuisi.
Haekal Adzani.
16.10.09.2:22.a.m.
Miskin kaya tua muda kecil besar tuan nyonya.
Seperti enam sisi sebuah dadu yang berpeluang sama saat dilempar.
Saat itu pula derita berada di atas dan tawa tertimpa.
Tidak adil berbicara kapan tawa menyeruak di wajah tirus, dan kapan murung menyeruak dari wajah gembira.
Aku pernah menjadi seorang kuat, dan menindas-nindas.
Tapi kesesaatan itu membuatku sadar.
Kaki tak bisa selamanya memental ke kepala makhluk paling sempurna.
Ada kalanya kaki kita terikat dan butuh waktu melepas ikatannya.
Maka, demi setiap keberagamannya, tidak ada harap secuil pun untuk membuatnya homogen, hanya, harap yang menggunung, menggunung, menggunung, membuatku, menjadi cermin bagi diriku, bukan membuat -mu, -nya, mereka.
Bukan tuan, bukan.
Acak itu menebar senyum, tangis, luka, dan bahagia.
Dari situ lah, kita memilih dan membangun cermin itu.
Biarkan dua sisi dadu ku biarkan kosong, dan akan kupilih, apa yang akan kuisi.
Haekal Adzani.
16.10.09.2:22.a.m.
12.8.09
Repetisi Romansa
"Matahari terbenam, andai saja aku berada di tempat yang nyaman menikmatinya"
Menatap terbenamnya matahari secara kasat mata, aku tahu kau tidak begitu menikmatinya
Kau begitu nyata, perjalanan pulang terasa singkat saat kaki kita akhirnya melangkah
Tangan menggenggam, senyum mengembang
Repetisi yang indah sayang
Yang akan terus berulang-ulang
Andai langkahku tak kau hentikan, perjalanan malam tak akan terhenti dalam kesendirian
Namun tak apa,
Apatah artinya esok hari, jika hari ini tak terlalui
Esok dan lusa dan esok dan lusa dan esok dan lusa
Peperangan melawan mereka, mereka dan mereka
Tak akan berhenti, dengan sebuah kecupan hangat di kening
Kini aku percaya, kau nyata bukan imaji
Aku percaya, repetisi ini, adalah sebuah pencapaian yang akan menyandingkan dunia yang sama dengan apa yang selalu kuharapkan
Awal dari repetisi, yang indah-indah
Bandung.21.08.09.04:12.
Love given by god, for me, to whoever i have now, or us.
Menatap terbenamnya matahari secara kasat mata, aku tahu kau tidak begitu menikmatinya
Kau begitu nyata, perjalanan pulang terasa singkat saat kaki kita akhirnya melangkah
Tangan menggenggam, senyum mengembang
Repetisi yang indah sayang
Yang akan terus berulang-ulang
Andai langkahku tak kau hentikan, perjalanan malam tak akan terhenti dalam kesendirian
Namun tak apa,
Apatah artinya esok hari, jika hari ini tak terlalui
Esok dan lusa dan esok dan lusa dan esok dan lusa
Peperangan melawan mereka, mereka dan mereka
Tak akan berhenti, dengan sebuah kecupan hangat di kening
Kini aku percaya, kau nyata bukan imaji
Aku percaya, repetisi ini, adalah sebuah pencapaian yang akan menyandingkan dunia yang sama dengan apa yang selalu kuharapkan
Awal dari repetisi, yang indah-indah
Bandung.21.08.09.04:12.
Love given by god, for me, to whoever i have now, or us.
31.7.09
Roman Picisan
Bagaimana dengan ayunan kaki yang seirama selalu menjadikan kita sepasang yang tersenyum kepada semua musafir?
Mereka ikut tersenyum.
Juga kucing-anjing liar yang berhenti bergelut dan tiba-tiba berjalan beriringan seraya tidak ada yang salah dengan perbedaan mereka.
Aku hanya ingin ayunan kaki ini menjadikan kita manusia mengerti, bahwa bersama itu tidak harus berada di dalam satu hati.
Bahwa irama ayunan kaki ini bisa saja berpisah tanpa kecupan hangat di kening sebelum ku berjalan menjauh, menjauh dari tempat kau menghabiskan waktu.
Mungkin, kecupan hangat itu sebatas imajinasi yang selalu kuharap akan terjadi.
Satu saat nanti.
Ingatkah pada matahari pagi dan matahari sore yang pernah kita nikmati bersama?
Mengawali, mengawali, cipta-ciptaan terindah.
Pagi, dan sore, yang indah, yang ciptakan sepi jika ku hanya menikmatinya sendiri.
Kecupan di kening itu akan kuberikan, bahwa yang kuharapkan akan kudapatkan.
Selamat Malam Sayang, malam ini semakin menua, dan siap untuk berputar.
Haekal Adzani
31.07.09
03:57 A.M.
Mereka ikut tersenyum.
Juga kucing-anjing liar yang berhenti bergelut dan tiba-tiba berjalan beriringan seraya tidak ada yang salah dengan perbedaan mereka.
Aku hanya ingin ayunan kaki ini menjadikan kita manusia mengerti, bahwa bersama itu tidak harus berada di dalam satu hati.
Bahwa irama ayunan kaki ini bisa saja berpisah tanpa kecupan hangat di kening sebelum ku berjalan menjauh, menjauh dari tempat kau menghabiskan waktu.
Mungkin, kecupan hangat itu sebatas imajinasi yang selalu kuharap akan terjadi.
Satu saat nanti.
Ingatkah pada matahari pagi dan matahari sore yang pernah kita nikmati bersama?
Mengawali, mengawali, cipta-ciptaan terindah.
Pagi, dan sore, yang indah, yang ciptakan sepi jika ku hanya menikmatinya sendiri.
Kecupan di kening itu akan kuberikan, bahwa yang kuharapkan akan kudapatkan.
Selamat Malam Sayang, malam ini semakin menua, dan siap untuk berputar.
Haekal Adzani
31.07.09
03:57 A.M.
Langganan:
Postingan (Atom)
